Postingan

Menampilkan postingan dengan label Politik

Duet Jokowi Puan, Mainan Politik

Gambar
Siapa Puan? Itu yang sering saya dengar saat ngobrol politik. Bukan mereka tidak tahu menahu tentang Puan tetapi figure ini masih bocah dimata masyarakat kita, ya seperti Ibas-nya pak SBY lah. Terus Jokowi gimana? Kalau saya Jokowi, saya mending mengundurkan diri dari bursa Capres. Lho nekat banget? Lho...nggak usah ikut Pilpres aja doi sudah menang kok! Masalah jadi duduk di kursi R1 itu bukan hal terpenting, yang paling penting menjaga reputasi kita dimata masyarakat luas. Masyarakat pasti sangat hormat dan maklum jika Jokowi keluar dari calon presiden. Jokowi masih bisa mengabdi di DKI Jakarta, dan everybody will be love him, terutama yang KTP DKI. Nggak Takut Ama bu Mega? Lha bu Mega bisa membuat PDI P besar karena tangan dinginnya? Ya tidaklah, kader-kadernya yang membuatnya. Kalau Jokowi mau quit karena Puan, saya yakin PDIP bisa pecah, pendukung Jokowi di PDIP juga banyak. Inilah yang harus dijaga bu Mega. Bu Mega bisa menggembosi sendiri partainya. Leader yang besar bi...

Jangan Mengumbar Peryataan Tanpa Fakta Jelas

Gambar
Penyerangan markas Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) disikapi banyak orang-orang pengamat sosial-politik sebagai bukti pertarungan politik ( detikcom ) sehingga terkesan 'analisa' mereka merujuk kesuatu perbuatan pihak parpol tertentu untuk mematikan demokrasi. Banyak yang bersimpati dengan kasus ini antara lain Ibu Megawati, terlihat juga bunga dari DPP Gerindra, DPP Hanura, DPP PKS, DPP Golkar, DPP PAN dan Gerakan Indonesia Bersatu. Dalam karangan bunga tersebut terdapat pesan seperti "Bangun demokrasi tanpa intimidasi", "Stop kekerasan","Membangun tanpa mencederai" dan "Mari berdemokrasi secara santun". ( detikcom ) Ternyata setelah ada penyelidikan Polisi, ternyata kasus ini kriminal biasa dengan melibatkan tersangka yang ternyata alumni UKI yang saling kenal, dan karena pertengkaran salah seorang mengamuk, diduga karena pengaruh minuman keras. Ini fakta terakhir yang diberatakan oleh polisi ( detikcom ) Jadi intinya, siapapu...

Lulusan Amerika Tidak Harus Bela Kepentingan Amerika

Gambar
Hari ini saya membaca artikel koran Kompas (senin, 26/10/09) yang berjudul "Bela Kepentingan Asing, Banyak Menteri Lulusan Amerika Serikat". Arbi Sanit, dosen pengajar Ilmu Politik UI mengkawatirkan latar belakang sebagian Menteri (khususnya bidang Ekonomi) yang lulusan Amerika Serikat, dapat berdampak sikap Menteri yang akan memihak kepentingan asing (Amerika). Lha, kenapa begitu panjang sekali jalan pikiran Pak Arbi. Semua asumsi itu harus dibuktikan, tidak bisa asal membuat perkiraan yang berdasar pada hubungkan ini hubungkan itu sehingga seolah-olah terkait satu sama lain, padahal hubungannya ruwet. Saya pribadi jelas tidak setuju, tidak gampang mem"punish" menteri lulusan Amerika akan berdampak buruk. Pak Arbi, mustinya menenggok ke dalam UI, lulusan Amerika pasti banyak...apalagi Ilmu Politik. Apa mereka tidak boleh jadi Menteri nantinya? Sekarang yang penting semangat bersama untuk membangun bangsa dan menyejahterakan masyarakat.

Political Survey Ads on One Day Before Election

Gambar
Image by Getty Images via Daylife Media Indonesia daily this day, there are two ads about survey results from two different surveys institutions. According to the Indonesia Development Monitoring (IDM), Megawati got 44.8% vote, SBY 27.1% and JK 26.6% from 3700 respondents. The Confidence interval is 1.61% with significant confidence on 95%. IDM provides no methods and distribution of respondents, so this result can not be trusted. Statistically, the data is still doubts. The other ads are from Lingkaran Survei Indonesia (LSI). LSI survey SBY as the winner with earnings vote more than 50%. This ad clearly is a form of advertising that expects presidential election just one lap only. Both ads is a form of "campaign" in the quiet period, and both clearly want to lead voters to a particular choice.

Warta No.1 Tambah Ngawur

Menanggapi artikel Warta No.1 tentang kemiskinan . Sepertinya tim kampanye atau yang nulis artikel ini nggak ngerti konsep pengukuran kemiskinan. 2 angka kemiskinan yang pengukurannya berbeda dibandingkan mentah-mentah. Konsep $2 dolar adalah besaran yang ditentukan oleh WorldBank, yang punya kepentingan untuk menjalankan project-project pengentasan kemiskinan yang banyak diperoleh perusahaan asing...menyedihkan! Hasyim atau penulis artikel tidak ngerti bahwa pendekatan kemiskinan bukan dengan pendapatan tetapi konsumsi/pengeluaran. Nilai $2 bukan pendapatan keluarga tetapi pengeluaran per orang per hari...beda sekali kan! Sedangkan pemerintah menggunakan konsep garis kemiskinan yang didasarkan pada kebutuhan dasar minimal orang Indonesia. Lagi-lagi penulis artikel Warta No.1 menyebut keluarga dengan pendapatan kurang dari Rp 182.500 termasuk miskin. Sedangkan harusnya angka tersebut adalah pengeluaran perorang perbulan....bukan keluarga! Benar-benar payah yang nulis Warta No.1, asal ...

Prabowo Rp 20.000, Saya cukup Rp 10.000

Gambar
Image by loei88 via Flickr Dalam debat Cawapres terkahir calon wapres Pak Prabowo mengeluarkan uang kertas Rp. 20.000,- untuk menggambarkan 113juta penduduk indonesia yang pendapatannya tidak lebih dari Rp. 20.000 perhari. Memang menyedihkan. Tapi sebenarnya, waktu itu Pak Prabowo harusnya cukup keluarkan uang kertas Rp 10.000,- saja karena angka 113 juta penduduk miskin merujuk ke perhitungan Worldbank yang menggunakan $ 2 perday. Cuma $2 ini jangan dikonversi pakai kurs sekarang, karena Worldbank sendiri punya konversi sendiri, misalnya untuk tahun 2007, $1 konversinya cuma Rp 4.704,81-. Nah kalau hitungan ini benar, berita ini akan lebih menyedihkan bagi bangsa ini karena ternyata pengeluaran 113juta penduduk tidak lebih dari Rp.10,000,- perhari.

Polling SMS Detik Cepat Berubah

Gambar
Benar-benar aneh dan ajaib...bisa dibilang fantastis. Saya termasuk pembaca setia detikcom, setiap hari mengaksesnya. Polling SMS Capres pasti termasuk yang saya perhatikan. Seminggu yang lalu angka % pendukung sepertinya hampir sama, malahan SBY kalah. Saya sempat berpikir, poling ini bukan sebuah patokan untuk diacu untuk meramalkan pemenang pilpres Juli ini. Sebagai statistisi ini sangat bias sekali karena hanya yang punya HP dan bisa akses internet yang tahu kalau ada poling di detikcom. Tapi entah kenapa minggu ini suara SBY sangat mengungguli bu Mega dan pak JK, kenapa begitu cepatnya? Secara teori untuk meningkatkan 1% suara, harus menambah suara 27 sms dari nomor unik (asumsi jumlah sms yang masuk sekitar 270-an), dan tidak ada yang sms untuk kedua calon lainnya. Kalau lihat pengirim SMS cuma 276 mungkin saja terjadi, tetapi kecil. Kemungkinan lain SMS ini dimobilasasi oleh koalisi pendukung pak SBY karena pengalaman sebelumnya di detik polling tentang partai, sepertinya dimena...

Sedekah Yang Banyak Biar Menang Pilpres

Gambar
Judul ini mungkin kiasan pernyataan Pak JK yang menyatakan bahwa melunasi utang Rp. 5 Juta diwaktu kampanye di Solo sebagai bentuk sedekah ( detikcom ). Dan ini dianggap bukan politik uang. Wuih...saya senang sekali jika banyak Capres lebih banyak sedekah (Secara spontan) kepada rakyat kecil dari pada mengumbar kampanye lewat media cetak dan elektronik yang biayanya selangit. Lumayan lah untuk melengkapi BLT yang katanya dari utang itu. Tapi sedekah tidak boleh dari pakai uang diluar kantong si Capres, kalau ini dilanggar...bisa dihukum di neraka jahanam. Mau?

Detikcom Tidak Independen Lagi

Gambar
Image by enda_001 via Flickr Udah beberapa hari ini saya lihat di portal berita kesanyangan detikcom ada kolom berita dari salah satu calon presiden no urut 1 dengan label berita Warta No.1. Jelas-jelas ini adalah kolom khusus mereka yang ditulis untuk kepentingan capres tersebut. Saya pribadi jadi terganggu dalam menikmati berita di detikcom tersebut. Tapi saya maklum, portal media kayak gini juga butuh duit...ya sepertinya musti cari media lain yang independen

Calon Presiden 'Menyang' Pasar

Gambar
Mungkin Anda tidak tahu arti "menyang", ini adalah bahasa jawa yang artinya "pergi ke". Kalau ngomong "menyang" ke Pasar ingat Ledek Kethek (topeng monyet), dimana si pelatih monyet sering ngomong "Sarimin Menyang Pasar", langsung saja si monyet langsung membawa pikulan sambil berjalan mondar mandir membawa payung kertas kecil, bersama musik kas topeng monyet! Bukan maksud saya menyamakan Capres dengan monyet lho...tapi akhir-akhir ini memang kegiatan ketiga capres jalan-jalan ke pasar. Bukan untuk mborong dagangan sehingga pedagang pasar ketiban untung, tapi hanya sekedar "hai hai apa kabar" alias tebar pesona. Geli juga memang, padahal kalau udah jadi presiden, mana sempat 'menyang' ke pasar wong agenda kepresidenan sangat padat! Atau takut dikira "Sarimin" ha ha ha! Gambar dari Flickr

Dipecat Jika Tidak Dukung Calonnya

Wualah ... setelah baca detikcom siang ini penuh dengan berita pecat-memecat kader. PPP akan pecat kadernya jika tidak dukung SBY-Boediono. Golkar juga ikutan mengumbar ancaman yang sama jika tidak mendukung JK-WIN. Sesumbar banget yach .... dukung-mendukung kan bisa lewat tindakan yang terlihat ... lha urusan milih itu hak asasi yang diatur UU .... nggak boleh dipaksa-paksa gitu! Dipecat jadi kader juga bukan kiamat ... masih bisa kerja toh!

Hati-hati Black Campaign

Belum apa-apa, sudah banyak beredar email-email yang memojokan salah satu calon presiden. Seperti ini akan banyak masuk ke inbox email Anda. Termasuk juga SMS yang akan mencoba menjatuhkan capress tertentu. Dan pasti di jejaring sosial pun akan dihiasai dengan kampaye-kampaye kotor ini. Berhati-hatilah untuk menyikapinya. Selamat Memilih Presiden Juli Nanti!

SBY-Budi calon peminpin RI

Akhirnya di Bandung, SBY benar-benar meminang Boediono untuk mendampinya dalam pilpres bulan juli nanti. Banyak yang menentang banyak juga yang mendukung. Sepertinya pilpres nanti akan makin rame saja. Bisahkan SBY bisa mempertahankan tahta presidennya? Kita lihat saja nanti!