Ketika Pembunuhan Dibelokkan Menjadi Isu SARA
Ada pola lama yang selalu berulang setiap kali darah tumpah di Maluku: sebelum fakta terkumpul, sebelum pelaku diketahui, sebelum hukum bekerja, agama dijadikan tersangka utama . Begitu pula dalam kasus Halmahera Tengah. Seorang warga yang dikenal sebagai ustaz dibunuh, lalu dalam sekejap narasi publik bergeser—bukan lagi “siapa membunuh” melainkan “agama siapa melawan siapa”. Ini bukan sekadar salah kaprah. Ini berbahaya. Kita terlalu cepat melompat dari tragedi ke tuduhan kolektif. Dari satu jenazah ke satu kelompok. Dari kejahatan pidana ke narasi suci. Padahal negara melalui aparat kepolisian sudah menegaskan berulang kali: ini bukan konflik SARA . Namun pernyataan resmi kalah viral dibanding potongan video, pesan berantai, dan provokasi yang dibungkus kalimat emosional. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya diuntungkan ketika kriminalitas dipoles menjadi perang agama? Jawabannya hampir selalu sama: bukan korban, bukan keluarga, dan jelas bukan masyarakat. Yang diuntungkan hanyalah ...