BBM saat ini, Subsidi, Kuota, atau Keberanian Melepas Pasar?
Setiap kali bicara BBM, saya selalu merasa diskusinya jarang benar‑benar jujur. Kita sering berputar di satu pertanyaan yang sama— “harga naik atau tidak?” —padahal yang terjadi jauh lebih kompleks. BBM bukan sekadar urusan energi; ia menyentuh dompet, emosi, dan rasa keadilan. Beberapa tahun terakhir, terutama sejak harga minyak dunia kembali liar akibat konflik geopolitik, saya makin sadar bahwa hampir semua negara Asia sedang berada di titik yang sama: kebijakan BBM lama tidak lagi cukup, tapi yang baru belum sepenuhnya siap . Menariknya, tiap negara mencoba jalan masing‑masing. Ada yang masih bertahan dengan subsidi, ada yang mulai membatasi lewat kuota, ada pula yang sejak lama memilih tidak ikut campur. Dari situ, saya belajar satu hal penting: BBM itu cermin keberanian kebijakan dan kejujuran negara kepada warganya. Cara Saya Membaca Kebijakan BBM di Asia Kalau dilihat dari jauh, peta kebijakan BBM di Asia seperti eksperimen besar yang berlangsung bersamaan. Saya coba ringkas de...