Postingan

Menampilkan postingan dengan label BBM

BBM saat ini, Subsidi, Kuota, atau Keberanian Melepas Pasar?

Gambar
Setiap kali bicara BBM, saya selalu merasa diskusinya jarang benar‑benar jujur. Kita sering berputar di satu pertanyaan yang sama— “harga naik atau tidak?” —padahal yang terjadi jauh lebih kompleks. BBM bukan sekadar urusan energi; ia menyentuh dompet, emosi, dan rasa keadilan. Beberapa tahun terakhir, terutama sejak harga minyak dunia kembali liar akibat konflik geopolitik, saya makin sadar bahwa hampir semua negara Asia sedang berada di titik yang sama: kebijakan BBM lama tidak lagi cukup, tapi yang baru belum sepenuhnya siap . Menariknya, tiap negara mencoba jalan masing‑masing. Ada yang masih bertahan dengan subsidi, ada yang mulai membatasi lewat kuota, ada pula yang sejak lama memilih tidak ikut campur. Dari situ, saya belajar satu hal penting: BBM itu cermin keberanian kebijakan dan kejujuran negara kepada warganya. Cara Saya Membaca Kebijakan BBM di Asia Kalau dilihat dari jauh, peta kebijakan BBM di Asia seperti eksperimen besar yang berlangsung bersamaan. Saya coba ringkas de...

Gara-Gara Kasus Oplosan BBM, Banyak yang Pindah ke SPBU Shell!

Gambar
Fenomena meningkatnya minat masyarakat Jakarta terhadap SPBU Shell menjadi sorotan utama belakangan ini. Peralihan konsumen dari Pertamina ke Shell semakin nyata setelah terungkapnya kasus blending bahan bakar minyak (BBM) yang melibatkan oknum di tubuh Pertamina. Kasus Blending BBM di Pertamina Pada Februari 2025, Kejaksaan Agung mengungkap praktik ilegal di mana BBM dengan Research Octane Number (RON) 90 dicampur untuk dijual sebagai RON 92. Proses blending ini dilakukan di depo, bukan di kilang, yang jelas melanggar prosedur standar. Akibatnya, negara diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp193,7 triliun. Meskipun pihak Pertamina membantah isu oplosan ini, kepercayaan publik terhadap kualitas BBM Pertamina tetap terpengaruh . Peralihan Konsumen ke SPBU Shell Dampak dari kasus tersebut, banyak pemilik kendaraan yang sebelumnya setia menggunakan Pertamax RON 92 beralih ke Shell V-Power yang memiliki nilai RON 95. Shell menawarkan berbagai jenis BBM dengan nilai RON yang berbeda, sepe...

BBM Naik, Harga Buah Keliling Belum Naik

Kadang kita selalu berpikir, jika BBM naik maka harga barang akan naik juga. Tetapi di daerah rawa badak Priok, ada salah satu barang yang tidak naik, yaitu salah satunya adalah buah yang dijual keliling. Biasanya buah buah seperti melon, pepaya, semangka, bengkoang, nanas, yang sudah diiris. Pagi ini saya coba beli sambil tanya harga, ternyata tetap 2500 perpotong. Waktu ditanya ternyata memang tidak manaikan harga karena harga kulakan buah naiknya tidak banyak, jadi daripada ditinggal pelanggan, mereka lebih baik harga tetap. Kalau dilihat ukuran potongan buah ternyata tidak terlalu berbeda. Menurut pedagang tersebut, yang naik adalah rujak. Mungkin karena harga cabe yang memang naik. Jadi saya yakin, pedagang akan berstrategi dalam berjualan. Kalau naik, maka naiknya tidak tinggi karena konsumen juga sudah pintar sekarang

BBM Naik, Tip Hemat Biker

BBM baru saja naik. Saya yakin salah satu imbasnya adalah biker atau pengemudi motor. Entah itu motor buat kerja, jualan, mejeng, sewa, sekolah maka umumnya akan berdampak. Inilah Tip Berhemat ala Bikker: 1. Jika motor Anda butut atau berumur, sebaiknya Anda ganti motor baru yang full injection. Ini akan berhemat di bensin yang dibeli tiap harinya, karena bisanya motor baru lebih irit. Bayangkan selisih bensin motor butut vs baru, terjadi tiap hari, uang yang kamu keluarkan untuk bensin butut, tarnyata sama mahalnya ketika kita kredit motor baru. Tapi kalau tidak punya uang, jangan dipaksaain ya. 2. Yang pagi motor cc tinggi, cobalah untuk ganti motor cc yang lebih rendah. Motor cc gede biasanya bensin juga gede duitnya juga. 3. Jangan suka ngebut, karena selain berbahaya, dengan ngebut makin banyak bensin yang digunakan. Tip diatas memang nyleneh, tetapi jika ada yang cocok, kenapa tidak?

Kartu BBM Rawan Bocor, Bensin Ketengan Merajalela

Gambar
Pemerintah tidak ada angin tidak ada hujan, langsung memberitahukan bahwa untuk beli BBM Subsidi tidak boleh langsung cash/pakai uang, tetapi harus beli semacam kartu BBM. Kenapa ini terjadi? ya jelas lah ini untuk penghematan penggunaan BBM bersubsidi. Kartu BBM ini nantinya bisa diperoleh di Bank-Bank yang ditunjuk/mengajukan diri untuk melayani masyarakat. Dan tidak semudah di bank kita ambil uang di ATM, kita harus mengisi formulir data pribadi yang mencantumkan KTP dan STNK. Jadinya nanti Pemerintah nanti punya data personal sudah "minum" premium berapa liter. Jika ketahuan sudah "kembung", entah apa lagi yang dilakukan pemerintah, saat ini saya belum dapat info jelasnya. Tadi saya baca di komentar, ada yang menyebukan ini peluang bisnis karena kartunya bisa diperjual belikan seperti halnya pulsa, tetapi dengan syarat spt diatas, seperti pemalsuan KTP dan STNK akan marak. APakah kita siap dengan keamanan distribusi kartu ini? Ini kan BBM yang jelas sangat...

Harga BBM Premium Rp 6000 per Liter, So?

Nih Bapak SBY sudah membuat Rancangan Anggaran, khususnya di sisi subsidi BBM. Premium akan naik menjadi Rp 6000 per liter. So what? Jangan tanyakan saya ya, saya sich tidak sombong, tapi memang sudah punya pendapatan tetap yang lumayan. Tapi karena tongkrongannya masih motor butut, sepertinya angka 6000 sich masih akan saya sikat. Paling saya akan tuker motor butut saya dengan motor baru, biar irit gitu! Jadi itu menurut saya (padahal tadi sudah tidak mau komentar lho). Tapi bagaimana dengan orang-orang yang dibawah saya, dan saya yakin jumlahnya banyak banget. Kalau mereka pastilah mikir juga, karena jelas perlu tambahan uang trasport. Termasuk orang-orang yang naik turun angkot atau angkutan umum lainnya pastilah mikir 2x untuk pergi pergi, karena pasti ongkos angkot akan meroket. Saya juga akan mengurangi konsumsi sambel saya karena cabe merah, cabe kriting dan cabe rawit akan lebih pedasssss...harganya! Tapi kalau Kopi, tetap ku beli lah...kalau tidak, nggak bisa nge-blog la...