Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pertanian

Sapi Pengungsi Jual ke Pemerintah Saja

Gambar
Sumber: Kompas.com (13/11/2010) Membaca artikel idiotnesia.com tentang harga sapi yang turun drastis menjadi Rp 350.000,- sampai Rp 700.000,- di daerah pengungsian Merapi, sangat menyedihkan. Peternak yang mengungsi memang tidak punya pilihan banyak terhadap sapi peliharaan yang bisa diselamatkan. Mereka sudah tidak punya uang cash dan tidak bisa merawat atau memberi makan sapinya. Pedagang Sapi saat ini banyak berburu sapi di daerah pengungsian, karena bisa mendapatkan harga yang sangat murah dari sapi yang selamat tadi. Pedagang ini umumnya hanya berpikiran untung tanpa ada belas kasihan terhadap pengungsi. Apalagi sekarang menjelang hari raya kurban Idul Adha, pastilah harga sapi akan meroket di pasaran biasa. Pemerintah awalnya hanya mengganti sapi yang mati karena awan panas. Tetapi saat ini Pemerintah akan membeli sapi korban Merapi yang masih hidup ( Kompas,13/11/10 ). Pemerintah bersedia membeli anak sapi seharga Rp 5 juta, sapi betina muda Rp 7 juta, sapi betina siap ...

Jual Motor-pun Ditengah Ladang Cabai

Gambar
Image via Wikipedia Awalnya Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo adalah desa miskin karena letaknya di pesisir pantai selatan yang umumnya tanahnya berpasir yang tidak cocok pertanian. Tetapi akhir Juli ini diadakan pesta panen raya cabai dengan acara tasyakuran. Ternyata acara ini diadakan tiap tahun sejak mulai ditemukan cara bercocok tanam cabai di lahan berpasir. Dan benar saja, ternyata biaya produksi 1 kg cabe sekitar Rp 5000,- setelah panen dijual ke pedagang laku Rp 20.000,-, berkah yang pantas disyukuri. Yang menarik adalah rasa syukur ini ditunjukan dengan belanja barang-barang oleh petani cabe, misalnya beli sapi, kambing, alat rumahtangga dan tidak ketinggalan motor baru. Alhasil, pesta panen raya ini diwarnai panggung dangdut yang diadakan oleh delaer-dealer motor, tentunya untuk jualan motor baru. Hebat, petani bisa beli 2 motor dengan uang cash/tunai tanpa dikredit seperti di kota-kota besar. Malahan dulu sebelum ada sistem lelang cabai, dealer motor j...

Petani Menemukan Cara Budidaya Singkong Raksasa

Gambar
Harian Kompas (23/5/2010) mengabarkan seorang petani di Bayumas, Bpk Tumarjo berhasil membudidayakan singkong raksasa. Dimana setiap pohon bisa menghasilkan 1.5 kuintal singkong, pastilah untuk panennya tidak bisa dicabut seperti singkong umumnya, mungkin harus digali. Menariknya, temuan budidaya singkong ini diperoleh oleh seorang petani saja bukan seorang peneliti pertanian. Padahal cara yang dilakukan sangat sederhana, yaitu dengan teknik penyambungan (grafting). Batang bawah (yang akan menghasilkan singkong) menggunakan singkong jenis gatot kaca yang ubinya bulat-bulat, sedangkan batang atas menggunakan singkong karet. Teknik yang sederhana ini wajar ditemukan oleh seorang petani, terus bagaimana dengan penelitian para peneliti pertanian dengan biaya yang besar? apakah karena singkong bukan tanaman yang menjanjikan? entahlah...yang jelas Kepala Dinas Pertanian tertarik untuk mengembangkan budidaya singkong ini, karena singkong ini potensial sebagai bahan baku bioetanol. Kita ...

Fenomena Dibalik Duren 5000an yang Makin Laris

Gambar
Hampir tiap hari saya lewat jalan pasar minggu raya sekitar volvo sekitarnya. Tidak heran jika diemperan jalan kita bisa melihat kardus tergantung tulisan 5000 dibawah tumpukan duren-duren yang menantang hidung yang mendekatinya. Setiap hari juga saya perhatikan duren-duren tersebut selalu baru, berati dalam sehari gunungan duren itu habis terjual. Rejeki nomplok bagi pedagang duren. Tapi kenapa duren 5000an yang laku? Saya pernah lihat duren-duren bangkok yang besar-besar yang dijual di daerah saya Tanjung Priok tepatnya daerah Kramat Raya, ternyata kurang begitu laku. Apakah daya beli kita memang baru mampu beli duren 5000an? Kalau memang demikian (perlu dibuktikan secara empirik), saya jadi berpikir teori ekonomi dasar dimana ada demand pasti ada supply. Dimana durian kecil laku terjual, ngapain petani duren report-report membesarkan buah duren. Jalan pikiran yang terbalik bukan. Jika untungnya sama ngapain tanam duren unggul, wong duren kecil-kecil dengan rasa biasa saja sekarang...