Alergi pada Anak makin Meningkat

Saat ini alergi pada anak mulai menjadi perhatian serius untuk orangtua. Mulai dari bayi, alergi bisa muncul. Contohnya saja, kita punya kebiasaan menjemur bayi dibawah terik matahari pagi supaya pertumbuhannya baik, tetapi ternyata kulit bayi terjadi ruam. Artinya si bayi kemungkinan besar punya alergi terhadap panas. Begitu juga dengan anak yang alergi dengan debu, jika tidak ditangani akan menyebabkan penyakit Asma.

Menurut ahli kesehatan, makin maju suatu negara dan penyakit infeksi berkurang, maka kasus alergi akan meningkat. Kebersihan yang makin baik akan membuat tubuh manusia makin sensitive. Sehingga perlu tindakan pencegahan dengan menghindari sumber-sumber alergi pada anak dan dewasa.

Menurut prediksi, alergi pada anak akan makin meningkat dimana faktor utama penyebabnya adalah (1) genetik, (2) lingkungan dan (3) imunologi (ganguan respon imun). Orangtua yang punya sejarah alergi, maka 85% anak-anaknya akan terkena alergi juga. Lingkungan juga sangat berpengaruh, seperti merokok (pada dewasa), anak tidak diberi ASI, polusi udara dan diet pun bisa membuat alergi.

Pada anak usia 0-1 tahun biasanya alergi anak karena makanan dan eksim (kelainan kulit kronis). Usia 3 th alergi anak yang menyebabkan asma tinggi dan puncaknya pada usia 7-15 th. Alergi yang menyebabkan hidung gatal (rhinitis) terjadi pada usia 15 th.

Jadi bagi orangtua, hindari sumber-sumber pencetus alergi. Terutama untuk alergi makana, jangan coba-coba orangtua nekat memberikan makanan tersebut dengan harapan anak bisa toleran dengan makana tersebut, sikap ini salah besar karena alergi yang muncul akan membayakan anak.

Sumber: Epaper.kompas.com

Komentar