Meraih Mimpi harus belajar dari Geng Upin & Ipin

Membandingkan kedua fim animasi anak ini tidak ada hubungannya dengan nasionalisme, hanya sekedar membandingkan dua karya seni yang serupa saja dan tentunya demi kemajuan film animasi. Kemarin saya melihat film animasi "Meraih Mimpi (MM)" dan seminggu sebelumnya di tempat yang sama saya juga melihat "Geng Upin & Ipin, pengembaraan bermula (UI)".

Animasi keduanya cukup bagus, tetapi sepertinya UI lebih baik dalam animasi 3D-nya. Animasi MM terlalu kaku jadi gerakan serasa slow motion, sedangkan UI sudah lumayan halus sehingga adegan-adegan kelincahan tokohnya kelihatan bagus.

Ketegangan yang dihadirkan lebih hidup di UI, sepertinya MM harus belajar banyak dari film Upin Ipin. Ketegangan di MM sewaktu mencari surat wasiat di candi tidak terlalu digarap serius, sedang UI benar-benar menghadirkan ketegangan yang hebat sewaktu dikejar Monster Durian, Ular raksasa sampai kelabang yang merayap di kepala.

Komedi-nya saya lebih suka UI (anak saya juga bilang UI lebih lucu), tokoh-tokoh di UI lebih banyak yang lucu secara fisik. Tokoh-tokoh di MM yang lucu hanya si Pairot dan Ben, mungkin juga karena MM bukan film komedi musikal yang lebih banyak musicalnya.

Pengisi suara sepertinya tidak bisa dibandingkan karena logat melayu di UI dan Bahasa Indonesia di MM memang beda, tetapi catatan saya buat MM, suara Gita Gutawa di adegan menyanyi memang bagus sekali tetapi agak kaku di adegan bicara biasa. Mungkin yang menarik adalah logat Tegal si Bunglon dan Indra Bekti sangat hidup dan sering membuat ketawa penonton.

Adegan menyanyi, saya lebih suka UI karena didukung dengan gambar animasi yang menarik, adegan menyanyi kolosal dengan background persawahan sangat hidup. Di MM, suara Gita Gutawa memang bagus tetapi animasi yang melatarbelakangi adegan tersebut biasa saja sedangkan disini adegan menyanyinya lebih banyak dibanding UI.

Tentang alur cerita, sepertinya MM mempunyai tema cerita yang bagus tetapi terlalu datar dan bisa ditebak. Sedang UI juga mengangkat cerita yang cukup bagus, dan penonton diberi kejutan di akhir cerita...penonton tidak menyangka bahwa masalah hantu durian ternyata berhubungan dengan kasus penyeludupan satwa liar, ini yang membuat UI lebih menarik ceritanya.

Akhirnya, Meraih Mimpi harus banyak belajar dari Upin-Ipin. Mungkin juga karena Upin & Ipin sudah punya pengalaman dalam film serial TV (ditanyangkan di TPI) sehingga punya pengalaman yang cukup untuk membuat versi layar lebar. Semoga review ini menjadi pelajaran bagi pembuat film animasi anak terutama bagi sineas Indonesia.

Note: Film Geng Upin & Ipin hanya di putar di bioskop Blitz Megaplex, sedangankan Meraih Mimpi bisa di bioskop 21

Komentar